Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Juli 2008

Sakit Hati



Jangan bertanya bagaimana rasanya sakit hati. Jangan pula bertanya siapa yang membuat hati terasa pedih, perih, dan nyeri. Sulit diungkapkan, tapi sangat jelas menyayat dada bagian dalam. Sakit hati adalah sakit dari segala sakit. Mungkin Anda pernah mengalaminya. Sakit hati tidak selalu disebabkan oleh putus cinta, tetapi bisa juga disebabkan oleh perbedaan pendapat atau pertentangan dengan teman atau anggota keluarga. Namun, sakit hati hampir sama rasanya dengan putus cinta, demikian juga dampaknya.

Siapa pun Anda, pasti ingin dicintai, mencintai, dipercayai, dan mempercayai orang lain. Tetapi, ketika sakit hati tiba, sulit bagi Anda untuk kembali memaafkan dan mempercayai orang yang melakukannya. Bahkan Anda mungkin merasa sulit untuk membuka hati dan perasaan kepada orang lain yang tidak tahu apa-apa. Ini adalah dilema yang harus dihadapi. Terserah Anda, memilih untuk berjalan sendiri atau melanjutkan hubungan setelah apa yang terjadi. Satu hal yang pasti, hidup akan terus berjalan dengan atau tanpa sakit hati.

Berdasarkan pengalaman beberapa sumber dapat disimpulkan bahwa belajar untuk membuka kembali hati, perasaan cinta dan rasa percaya kepada orang-orang yang pernah menyakiti anda, merupakan hal yang penting. Kenapa ? Karena cepat atau lambat, setiap orang akan menyakiti dan disakiti hatinya. Oleh sebab itu, akan lebih baik apabila Anda menyadari bahwa tidak ada satu orang pun di dunia ini yang luput dari sakit hati, termasuk Anda.Tanpa bermaksud mengurangi rasa percaya kepada orang-orang yang Anda cintai, ada baiknya Anda menyadari bahwa siapa pun dia, teman biasa, sahabat, pacar atau keluarga dan sebaik apa pun dia, suatu saat nanti akan menjadi orang yang menyakiti Anda - walaupun mungkin tidak disengaja. Oleh sebab itu, ada baiknya apabila Anda menganggap bahwa mereka tidak serius dengan ucapannya. Anda bisa menganggapnya angin lalu atau bisa mengatakan kepada diri bahwa perbuatan mereka sebenarnya tidak ditujukan kepada Anda. Cuek saja, jangan dimasukkan ke hati.

Belajar untuk bertanggung jawab dan menghargai orang lain juga sangat penting. Coba bertanya pada diri, apa yang tidak dinginkan dalam hubungan Anda, apa yang bisa membuat Anda sakit hati, dan apa yang Anda ingin orang lain lakukan. Buatlah daftarnya dan coba utarakan hal itu kepada orang-orang di sekitar Anda. Apabila Anda sakit hati lagi, ada baiknya mengingat cara mengatasi sakit hati terdahulu. Tetapi mencoba keluar dari masalah dan melupakannya dengan cepat, akan sangat membantu. Apabila perlu, hang-out bersama teman-teman dan alihkan perhatian kepada pekerjaan atau olah raga.

Anda juga perlu mengetahui bahwa kata kunci untuk menyelamatkan diri dari sakit hati adalah bukan percaya kepada orang lain tetapi percaya kepada diri sendiri dan perasaan Anda. Ingatlah bahwa tidak ada jaminan orang lain tidak akan menyakiti perasaan Anda. Berusahalah menjadi orang baik, sopan,
bijak, peduli kepada orang lain dan dapat dipercaya. Untuk menjadi itu semua, tentu saja Anda harus dapat mempercayai diri sendiri agar Anda merasa bebas berbuat dan menentukan hubungan. Berkomunikasi secara efektif dan lugas sangat penting. Ungkapkan perasaan Anda, apa yang disukai dan apa yang dibenci. Hal itu sangat membantu orang lain mengerti Anda dan berusaha untuk tidak melakukan tindakan yang mungkin bisa menyakiti hati Anda.

Belajar mempercayai opini sendiri mengenai diri, tindakan dan perbuatan Anda adalah lebih penting dari mempercayai opini orang lain. Bisa jadi Anda justru bertambah sakit hati dengan opini mereka. Belajarlah untuk percaya dan hargai diri Anda sendiri. Hal paling utama yang harus Anda lakukan adalah belajar memaafkan kesalahan orang lain karena memaafkan adalah hal paling baik dalam sebuah hubungan. Dan teruslah selalu berpikir positif terhadap suatu kritik / tindakan orang lain yang mungkin bisa menyebabkan anda sakit hati, karena pikiran positif akan membuat sakit hati menjadi normal kembali.

Sumber : Agusdemak

Seseorang Yang Mencintai Kamu

Seseorang yang mencintai kamu, tidak bisa memberikan alasan mengapa ia mencintaimu. Dia hanya tau, di mata dia, kamulah satu satunya.

Seseorang yang mencintai kamu, sebenarnya selalu membuatmu marah / gila / jengkel / stres. Tapi ia tidak pernah tau hal bodoh apa yang sudah ia lakukan, karna semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikanmu.

Seseorang yang mencintai kamu, jarang memujimu, tetapi di dalam hatinya kamu adalah yang terbaik, hanya ia yang tau. Seseorang yang mencintai kamu, akan marah-marah atau mengeluh jika kamu tidak membalas pesannya atau telpnya, karna ia peduli dan ia tidak ingin sesuatu terjadi ke kamu.

Seseorang yang mencintai kamu, hanya menjatuhkan air matanya di hadapanmu. Ketika kamu mencoba untuk menghapus air matanya, kamu telah menyentuh hatinya, dimana hatinya selalu berdegup / berdenyut / bergetar untuk kamu.

Seseorang yang mencintai kamu, akan mengingat setiap kata yang kamu ucapkan, bahkan yang tidak sengaja dan ia akan selalu menggunakan kata-kata itu tepat waktunya.

Seseorang yang mencintai kamu, tidak akan memberikan janji apapun dengan mudah, karna ia tidak mau mengingkari janjinya. Ia ingin kamu untuk mempercayainya dan ia ingin memberikan hidup yang plaing bahagia dan aman selama lamanya.

Seseorang yang mencintai kamu, selalu memberitahumu untuk tidak berpikir terlalu banyak, karna ia sudah merencanakan semuanya untukmu. Ia ingin memberikan kehidupan yang terbaik di masa mendatang. Ia ingin memberikanmu suatu kejutan, percayalah dia dapat melakukannya.

Seseorang yang mencintai kamu, mungkin tidak bisa mengingat kejadian / kesempatan istimewa, seperti perayaan hari ulang tahunmu, tapi ia tau bahwa setiap detik yang ia lalui, ia mencintai kamu, tidak peduli hari apakah hari ini.

Seseorang yang mencintai kamu, tidak mau berkata Aku mencintaimu dengan mudah, karna segalanya yang ia lakukan untuk kamu adalah untuk menunjukkan bahwa ia siap mencintaimu, tetapi hanya ia yang akan mengatakan kata I Love You pada situasi yang spesial, karna ia tidak mau kamu salah mengerti, dia mau kamu mengetahui bahwa ia mencintai dirimu.

Seseorang yang bener-bener mencintai kamu, akan merasa bahwa sesuatu harus dikatakan sekali saja karena ia berpikir bahwa kamu telah mengerti dirinya. Jika berkata terlalu banyak, ia akan merasa bahwa tidak ada yang akan membuatnya bahagia / tersenyum.

Seseorang yang mencintai kamu, akan pergi ke airport untuk menjemput kamu, dia tidak akan membawa seikat mawar dan memanggilmu sayang seperti yang kamu harapkan. Tetapi, ia akan membawakan kopermu dan menanyakan: Mengapa kamu menjadi lebih kurus dalam waktu 2 hari? Dengan hatinya yang tulus.

Seseorang yang mencintai kamu, tidak tahu apakah ia harus menelponmu ketika kamu marah, tetapi ia akan mengirimkan pesan setelah beberapa jam. Jika kamu menanyakan: mengapa ia telat menelepon, ia akan berkata: Ketika kamu marah penjelasan dari dirinya semua hanyalah sampah. Tetapi, ketika kamu sudah tenang, penjelasannya baru akan benar-benar bekerja / manjur / berguna.

Seseorang yang mencintaimu, selalu memanggil kamu dengan sebutan gadis kecil , tapi sewaktu ia menginginkan untuk membuat keputusan besar, dialah orang pertama yang ingin mendengar saran dari kamu.

Seseorang yang mencintaimu, akan selalu menyimpan semua benda yang telah kamu berikan, bahkan kertas kecil bertuliskan ‘ I LOVE U ‘ ada di dalam dompetnya.

Seseorang yang mencintaimu, saat bertengkar, dia akan meminta maaf dengan tak terkontrol (secara terus menerus) meskipun kamu yang bersalah dan nantinya ia akan mengirimkan pesan kepadamu : Sayang, sebenarnya itu adalah kesalahan kamu dan kamu sendiri sudah mengetahuinya.

Seseorang yang mencintaimu, ia ingin membelikanmu sekeranjang mawar berjumlah sama dengan hari jadi pacaran dan menungu dengan bodohnya di bawah apartemenmu, ia melakukan ini karena ia benar-benar sayang kamu.

Seseorang yang mencintaimu, jarang mengatakan kata-kata manis. Tapi kamu tau, ‘kecupannya’ sudah menyalurkan semua.


Sumber : Agusdemak

Sabtu, 21 Juni 2008

Sisa Badai di Sepasang Mata

SETIAP kali aku menatap matanya, aku merasa melihat tanah-tanah kuburan tua, seperti melihat ladang-ladang yang terbakar dalam senja, mengingatkanku pada pantai murung dengan onggokan kapal rusak dan lelah. Ada badai yang selesai bertiup di matanya, dan kemudian diam selamanya. Puing-puing dan segala yang berserpih adalah matanya yang sekarang, mata seusai badai menerpa. Dan ternyata tidak sederhana bagiku, setiap kali aku sendiri di malam hari, aku merasa sepasang matanya menyergap dan menikamku dari balik gelap sana. Aku seperti dihisap dan digulung ke dalam badai yang telah selesai bertiup di matanya.

Tidak ingin tahu namanya. Aku tidak ingin tahu cerita tentangnya. Aku sungguh tidak ingin menambah teror yang sudah merayap di tengkukku hanya lantaran sepasang matanya. Orang-orang di kampung ini pun sepertinya tidak memasukkan orang pemilik sepasang mata yang misterius itu dalam kehidupan mereka sehari-hari. Tidak ada yang bercerita tentangnya. Ia tidak ada pada setiap hajatan dan upacara kematian. Ia tidak ada di warung kopi dan pos ronda. Ia mungkin juga tidak tercatat sebagai warga kampung ini, tidak direcoki oleh kewajiban membayar berbagai pajak-sekalipun ia tinggal di sebuah rumah dan punya dua ekor sapi-dan aku sangat yakin dia tidak pernah ikut pemilu.

Tapi bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya? Bukan karena aku sudah merasa terteror dengan sepasang matanya. Tapi aku sekarang tinggal tepat di depan rumahnya! Aku datang kurang lebih empat bulan yang lalu di kampung ini untuk keperluan penelitian. Dan, oleh seorang kenalan kemudian aku mendapatkan sebuah rumah kecil yang bisa kutempati dengan biaya yang sangat murah. Rumah kecil tepat di depan rumah sepasang mata yang penuh dengan teror itu.

Pada malam ketiga setelah kedatanganku, aku bertemu dengannya. Tiga hari dan dua malam setelah kedatanganku kuhabiskan dengan menata dan membersihkan rumah yang kutinggali. Malamnya tentu saja aku sangat lalah dan kupakai untuk istirahat. Baru pada malam ketiga, aku keluar untuk bersilaturahmi dengan tetangga kiri-kanan. Tapi aku urung mengetuk pintu rumah di depan rumah yang kutinggal karena gelap tidak berlampu. Aku berpikir untuk mengunjunginya besok pagi saja.

Dan kemudian aku menuju ke rumah kenalanku satu-satunya, lalu kami berdua pergi ke sebuah warung kopi yang cukup ramai. Di sana kenalanku bertambah banyak, apalagi setelah saling bersulang arak. Saat aku pulang, dengan kepala yang begitu berat, aku melihatnya. Saat itu, ketika aku hendak membuka pintu rumahku, aku merasa ada yang mengawasiku. Lalu aku menoleh ke belakang, namun tidak kudapati siapa pun. Gelap ada di mana-mana. Hanya beberapa kelip lampu yang menerobos dari dinding kayu tetangga kiri-kananku, dan lampu redup yang menyala di pagar rumah yang kutinggali. Dan, ketika aku hendak melangkah masuk, aku tetap merasa ada yang mengawasiku. Lalu kuputuskan untuk keluar lagi, dan kuedarkan pandangku sekalipun segalanya tampak lamur karena bersloki-sloki arak. Dan kudapati sepasang mata itu. Aku mendapatinya dari pendar lampu di dekat pagar rumahku.

Awalnya aku tidak yakin bahwa itu sepasang mata. Tapi memang kutangkap bayang-bayang tubuh yang sedang berdiri di pintu rumahnya yang gelap. Dan kemudian baru kuyakini bahwa itu sepasang mata. Aku mencoba tersenyum dan ingin menghampirinya. Tapi entah kenapa, langkah kakiku seperti tertahan. Sepasang mata orang itu seperti menjelma menjadi tembok kokoh yang menahanku untuk maju mendekatinya. Sepasang mata seperti bolam susu yang kotor karena debu, sepasang mata yang usai dari badai, sepasang mata yang melempar teror dengan cara asing dan semena-mena.

Aku hanya bisa membalikkan tubuh, menutup pintu. Senyum yang kulemparkan bukan hanya sia-sia, senyum yang kulemparkan balik dengan kekuatan ganda melabrakku penuh beda rasa. Aku pikir, aku bukan seorang penakut. Tapi begitu kututup pintu, menguncinya, aku merasa tatap mata orang itu masih terus lekat di tubuhku, seperti mengintaiku dari balik dinding-dinding kayu, dari lubang ventilasi, bahkan ketika aku mencoba tidur, aku merasa sepasang matanya terus menyorotku dari segala benda yang mencipta ruang-ruang gelapnya; dari lubang kunci, dari sela-sela buku, dari atap dan di bawah dipan yang kutiduri.

Aku baru saja tidur ketika hari mulai pagi. Dan semenjak itu, aku hanya bisa tidur ketika sudah ada sinar matahari. Aku sudah mencobanya dengan mengganti bolam di kamarku dengan yang lebih terang, dan aku mencoba tidur dengan lampu yang menyala terang itu. Tapi sungguh sia-sia. Aku justru merasa seperti ada di sebuah akuarium, dan sepasang mata itu terus melihatku dengan begitu leluasa.

Di siang hari, aku merasa tak ada gangguan dengan sepasang mata itu. Siang hari, ketika aku bangun dari tidur yang kumulai di pagi hari, aku bisa mendapati rumah di depan sebuah rumah yang biasa saja. Di sekelilingnya tumbuh beberapa pohon buah- buahan. Di sampingnya agak jarak, aku melihat sebuah kandang dengan dua ekor sapi. Di sekeliling kandang itu tumbuh subur pohon-pohon pisang dan sayur-sayur. Aku melihat laki- laki itu pulang pada senja hari dengan sekeranjang penuh rumput di atas kepalanya, cangkul dan sabit, juga lintingan rokok besar di tangannya. Tapi sepasang mata yang penuh teror itu selalu tak bisa terlihat. Aku pikir mungkin karena ada topi lusuh yang bertengger di kepalanya, juga keranjang penuh rumput yang di sana-sini rumputnya jatuh di kepala dan punggungnya. Tapi kemudian aku benar-benar menyerah. Dari berbagai arah, berkali-kali pada saat bertemu dengannya di siang hari, aku tetap tak bisa melihat sepasang matanya. Aku ingin menantang tatapan matanya di siang hari. Mata yang membuat malam-malamku menjadi resah dan menakutkan.

Ia dan sepasang matanya berkuasa padaku di malam hari. Pernah pada niat yang begitu bulat, kukerahkan dan kukumpulkan segenap keberanianku untuk menemaninya di malam hari. Tapi sekali lagi entah karena apa, aku hanya bisa sampai pada pagar hidup rumahnya. Rumah yang masih tetap gelap. Aku melewatinya berkali-kali dengan perasaan tak menentu.

Akhirnya kuputuskan untuk menemui kenalan-kenalanku di warung kopi sambil minum arak, berusaha melupakan kebulatan tekatku yang tidak menghasilkan apa-apa. Dan peristiwa yang makin memojokkanku datang di malam itu. Aku merasa ingin kencing, lalu aku keluar dari warung menuju arah jalan yang agak sepi untuk kencing. Sebetulnya begitu keluar dari warung, aku merasa malam segera menyambutku dengan tusukan sepasang mata yang ada di mana-mana, ada di balik setiap gelap. Tapi aku mencoba tidak peduli, juga karena aku memang harus kencing.

Namun tiba-tiba langkahku terhenti, di dekat sebuah satu tiang listrik, yang lampunya di sekitarnya menyala redup, aku melihat sosok itu. Dan aku menatap matanya dengan cukup jelas saat itu. Mata yang seperti selesai namun maih menyimpan sisa badai. Aku gemetar. Tubuhku dingin namun mengeluarkan keringat. Suaraku seperti hilang, dan aku seperti tak punya napas. Seluruh kulit di tubuhku tiba-tiba bergerak sendiri. Aku hampir dihabisi oleh ketakutan yang terkutuk. Lalu kulihat kemudian ia pergi, melenggang dengan langkah-langkah pendek dan nyala api dari tangannya. Api lintingan rokok yang besar. Beberapa saat kemudian, aku merasa sangat malu pada diriku sendiri.

Segera aku diburu oleh rasa marah yang sangat pada diriku, dan balik ke warung kopi, minum bersloki-sloki arak, lalu kupinjam parang dari pemilik warung. Beberapa orang agak heran, tapi kemudian aku bisa berdalih. Dengan tubuh yang menahan marah aku melangkah menuju rumahnya. Aku masukkan parang di balik jaketku, setelah aku sadar betapa memalukannya diriku. Apa salahnya padaku? Kenapa aku bisa begitu terganggu dan ketakutan? Tapi aku tetap melangkah menuju rumahnya. Apapun yang terjadi, aku harus bicara dengannya, paling tidak berkenalan, dan aku ingin memastikan bahwa sepasang mata itu sesungguhnya tidak penuh dengan teror. Tapi jika kemudian memang marabahaya yang ditawarkannya, aku meraba gagang parang di balik jaketku, seperti meraba kemungkinanku untuk mempertahankan diri.

Dan kudapati ia di depan pintu rumahnya, masih dengan nyala rokok yang jika dihisap menjadi bertambah nyalanya, dan sepasang matanya semakin terlihat mengerikan. Aku tetap hanya bisa tertegun di pagar hidup rumahnya. Kami berdua hanya dibatasi dengan pagar hidup pohon beluntas setinggi perutku , dan beberapa meter kemudian tubuhnya bersandar pada salah satu sisi pintu yang terbuka, seperti menungguku. Aku habis kata dan keberanian. Aku tetap mendapati sepasang matanya sebagai teror menakutkan. Sangat menakutkan. Aku berbalik arah, dan seiring dengan pengaruh arak yang merayap turun, aku semakin dirundung takut yang menyesakkan. Sampai pagi tiba.

SEBULAN sekali, aku ke kota untuk berkonsultasi dengan peneliti seniorku. Dan pada saat yang agak jauh dari kampung itu, dari sepasang mata itu, aku bisa berpikir dengan agak jernih. Itu sepasang mata orang yang telah mati, mata yang keruh. Tapi kenapa di tubuh yang tegap dan hidup bisa memiliki mata orang yang telah mati? Dan mengapa itu hanya terjadi di malam hari? Atau baiklah, aku tidak bisa mengatakan itu hanya terjadi di malam hari, sebab aku tidak pernah melihat matanya di siang hari.

Tapi menurutku pertanyaan itu bisa kuganti dengan: mengapa aku merasa ada sepasang matanya yang menakutkan itu, hanya menerorku di malam hari? Mungkin banyak orang akan menjawab, mereka mengira aku takut hantu dan sejenisnya, yang selalu hadir di malam hari. Itulah masalahnya. Aku tidak pernah percaya hantu, dan malam hari bukan sesuatu yang selama ini menakutkan. Aku hanya takut pada dua hal selama ini: kecoa dan ulat bulu.

Lalu sesungguhnya apa yang menakutkanku, sehingga aku harus tidak nyaman tidur, tidak leluasa berpergian ketika malam, dan beberapa kali gemetar tak karuan ketika bertatapan mata dengan bertemu dengan orang itu? Dan lalu muncul keinginan-keinginan untuk tahu siapa pemilik sepasang mata itu.

Tapi setiap kali aku balik lagi ke kampung itu, segala keingintahuanku tiba-tiba lenyap, bahkan aku tidak ingin mengerti dan tahu apa-apa tentang orang tersebut. Tiba-tiba aku seperti berada dalam sebuah situasi dimana pemilik sepasang mata yang menerorku itu tidak pernah ada di kampung itu. Tidak pernah ada orang yang membicarakannya, menyebut namanya. Dan aku merasa bahwa memang sepasang mata yang seperti orang yang telah mati itu memang hanya untukku dan itu hanya ada di malam hari. Selalu saja, jika aku ada di kampung itu, aku selalu merasa seperti tidak perlu dan tidak butuh semacam latar belakang dan cerita tentang laki-laki itu. Aku tidak ingin menambah derajat ketakutanku. Biarlah dia hadir dengan sorot matanya ketika malam. Toh aku tidak selamanya ada di sana.

Tapi pada saat jauh dari kampung dan orang itu, selalu saja aku dirundung tanya dengan begitu saja. Umur laki-laki itu kira-kira seumur dengan pamanku, lima tahun lebih muda dari ayahku. Tubuhnya gempal berisi dengan kulit yang agak gelap terbakar matahari. Tidak pernah kulihat beralas kaki. Selalu melangkah dalam langkah-langkah pendek dan mantap. Benar-benar tubuh orang hidup. Tapi sepasang matanya....

Suatu saat, dalam sebuah perjalanan balik menuju ke kampung itu, aku berhenti di kota kecil. Dari kota itu ke kampung yang hendak kutuju masih berkisar satu setengah jam masuk ke dalam bebukitan penuh ladang naik angkutan yang sehari paling hanya ada tiga atau empat kali dalam sehari. Aku berhenti untuk berbelanja beberapa kebutuhanku yang lupa kubeli. Selesai berbelanja, sambil menunggu angkutan, aku masuk ke sebuah warung untuk makan siang. Begitu masuk, entah mengapa, perhatianku langsung tertuju pada seseorang berbaju dan bercelana hitam, baju dan celana yang komprang dan warna hitamnya mulai pudar.

Aku duduk di sampingnya. Kuperhatikan lagi orang di sampingku. Cukup tua. Kutangkap keriput di wajahnya. Hampir semua kumisnya berwarna putih. Ia memakai ikat kepala dari kain. Diam. Asyik dengan rokok dan secangkir kopinya yang hampir tandas.

Ia menoleh padaku, melempar senyum. "Mau ke Dalam, Anak?" tanyanya sambil menggeser tubuhnya, memberiku tempat agak leluasa.

Aku mengangguk. 'Dalam' adalah istilah untuk menyebut daerah yang kutuju. Lalu aku memesan kopi dan makan.

"Saya juga mau ke sana."

Aku merasa agak lega. Setidaknya aku merasa ada teman menuju satu tujuan. Sebab kadang-kadang memang tidak ada angkutan yang pasti ke sana. Aku berharap, dalam hari yang masih siang seperti itu, masih ada sisa angkutan ke Dalam.

"Bapak berasal dari sana?"

"Dulu. Tapi sudah lama saya keluar dari sana."

Aku meneruskan makan, dan berharap tidak mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya enggan di jawab. Ia nampak masih asyik dengan kopi dan rokoknya.

Sudah beberapa saat kami berdua menunggu. Tapi angkutan menuju Dalam tak juga muncul. Lalu kami putuskan untuk menunggu tepat di jalan menuju Dalam, siapa tahu ada mobil maupun truk yang lewat dan kami bisa numpang. Hari berangkat menuju sore.

Di sebuah rumah-rumahan yang mungkin bekas warung makan sederhana, kami menunggu. Kami tidak banyak bercakap. Laki-laki itu lebih sering memunggungiku, menebarkan pandangnya ke lanskap, ke arah Dalam, yang dari jauh terlihat hanya sebagai bebukitan.

"Waktu aku kecil, Dalam adalah hutan yang menghijau." Laki-laki itu berucap, tapi tidak seperti ditujukan padaku, sedangkan ia masih juga memunggungiku.

"Bapak pernah tinggal di sana?"

"Hanya beberapa keluarga yang tinggal di sana. Kami hidup dari hutan. Lalu datanglah orang-orang itu, orang-orang yang mengaku berpendidikan. Mereka membangun kompleks perumahan untuk orang-orang yang mengelola hutan. Lalu satu per satu kemudian, ada sekolahan, ada tempat ibadah, ada tanah lapang. Dalam beberapa tahun, banyak sekali orang yang datang. Tiba-tiba kami punya pasar, balai desa, jalan diperlebar, angkutan dan mobil melintas. Membawa yang baru, dan membawa pergi apa-apa yang dulu kami hormati dan junjung tinggi."

Laki-laki itu membalikkan tubuhnya, dan kulihat wajah yang mengeruh. Murung.

"Mau tidak mau kami masuk dalam kehidupan mereka. Anak-anak dari keluarga kami bersekolah, hutan dan alam adalah uang. Listrik masuk. Tidak terlalu ada beda antara siang dan malam. Ikan-ikan di sungai menyusut, binatang-binatang hutan langka. Hutan-hutan diatur dan dipetak-petak. Kami tidak bisa leluasa lagi keluar masuk hutan, mendapatkan apa yang kami butuhkan. Mereka menjaga hutan seperti menjaga barang perhiasan. Mereka membawa senapan yang siap ditembakkan bagi penebangan-penebangan. Tetap saja ada kayu yang hilang, yang tidak mungkin kami lakukan. Orang-orang kekurangan uang yang melakukannya, dan mereka mendiamkannya, bahkan ada yang diam-diam dari mereka sengaja melindungi dan membantu menjualnya."

Ia berhenti sejenak, melinting rokok dalam ukuran besar, mengingatkanku pada orang bermata teror.

"Mereka bilang akan mengelola hutan dengan baik, tapi itu semua bolong. Diam-diam di antara mereka sendiri telah mencurinya. Mereka tidak benar-benar menjaga alam. Orang-orang yang dulu menggantungkan hidupnya dari hutan diajari bertani dengan sistem tumpang sari, tapi kebutuhan yang diajarkan mereka datang lebih cepat dan besar.

Kami berubah dengan merasa semakin miskin. Tiba-tiba kami ingin punya televisi, ingin punya sepeda motor, dan hasil dari pertanian seperti itu tidak memungkinkan. Lalu di antara kami yang menebangnya, menjual dengan diam-diam ke orang- orang mereka. Tetap juga mereka yang kaya. Yang menebang yang kena resikonya, tapi mendapatkan hasil yang tidak seberapa. Jika ada pemeriksaan dari pusat, kami yang kena. Rumah-rumah kami digeledah, atau saat kami menebang, mereka datang bersenjata dan menangkapi kami. Harus tetap ada yang dianggap mencuri, sekalipun hasil terbesarnya ada pada mereka sendiri."

Orang tua itu membalikkan tubuhnya lagi, memandang Dalam dari kejauhan. Senja mulai jatuh.

"Sekarang, hutan itu habis. Terbukti mereka tidak bisa menjaganya, sebab mereka sendiri yang mencurinya. Memang ada beberapa di antara kami yang menebangnya, itu karena kebutuhan yang mereka ajarkan. Anak-anak kami yang merengek minta sepeda dan mobil-mobilan. Perempuan-perempuan kami harus ikut arisan, rapat, pengajian. Semua itu artinya uang. Itu pun tidak seberapa yang kami dapatkan, dibanding dengan yang mereka dapatkan. Sebentar lagi, bukit-bukit itu juga akan rata dengan tanah. Setelah tidak ada kayu, mereka akan mengambil tanah dan batu."

Aku terperanjat seperti diingatkan. Dengan cepat kuraba tas punggung yang ada di samping dudukku. Tas berisi berkas-berkas penelitian tentang kandungan tanah dan batu di daerah Dalam.

Senja beranjak gelap. Orang tua itu membalikkan tubuhnya. Tiba-tiba aku merasa gemetar. Aku mencari-cari sesuatu, dan pandangku berhenti pada sepasang matanya. Sepasang mata itu! *

Puthut EA

Minggu, 27 April 2008

Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta

Dalam percakapan yang lamat, berdengung, seperempat tertangkap maka absah untuk menduga, mulai curiga, sebagai mana yang kaualamatkan pada nol. Tepat! di benakmu ada yang ketemu antara diriku dan bilagan nol. Sebab nol adalah bilangan yang patut kau curigai. Sesuatu yang tidak mengenal lusuh, namun tetap acak, dalam potensi-potensi dan pilihan-pilihan tak terduga, seperti mengapa misalnya seorang anak lebih memilih uang saku daripada sebuah kantung berisi kue-kue yang jauh lebih mahal bersama dengan ucapan selamat menimba ilmu. Kecurigaan yang tidak perlu di rekayasa dan memerlukan banyak alasan pendukungnya. Nol adalah malapetaka, segala bilangan mulai menyusun dunianya sendiri dan harus segera menghindari jauh-jauh dari sumbernya sebelum ia disetubuhi dan masuk lagi dalam bilangan yang tak pernah lusuh itu. Semacam singularitas, yang akan membuat perjalanan segala bilangan lain menjadi sia-sia dan tak bermakna.

Tapi, tentu saja engkau harus terus mengingat saat-saat dimana aku mempersmbahkan sajak-sajak yang kubiarkan tetap hidup dalam tembok dan pintu kamarmu. juga bau manja buah durian ketika sebuah tiang listrik ikut hangus dalam sambaran petir dan gelap hujan. Juga ketika engkau membangunkanku pada sebuah sore, sebab aku harus menyerap kabar-kabar terbaru hari ini dari sebuah televisi. Engkau tahu, aku memang berusaha keras untuk memanjakanmu terutama agar engkau berani mengerang tajam ketika akan mencumbumu. Dan, ciuman itu, memang bisa lebih panjang dari duapuluh lima iklan.

Engkau harus terus mencurigaiku, sebab sebaik-baiknya aku padamu, bisa saja aku berupaya keras mendapatkanmu kembali. Dan, jika itu yang terjadi, bisa saja ini sebagai surat cinta untuk mu.

Dan, harus kuajarkan sekali lagi, biar lebih pasti, bahwa engkau sekali-kali tidak bisa meminta pertanggungjawaban dari setiap keinginanku. Menanggungnya saja, sudah lebih dari segala bentuk pertanggung jawaban yang layak. Dan, jangan sekali-kali pula engkau menyuruhku untuk berangkat dewasa, lebih berpikir bagi masa depan dan tetek-bengek yang tidak menarik tentang hidup di kemudian hari, sebab engkau cenderung akan tersesat sebagaimana orang lain menganggap masa lampau--terlebih lagi masa kanak-kanak--adalah masa yang renyah, jinak, tak menanggung beban.

Aku akan menguliti keyakinanmu, sampai pedihnya menjalar keluar dari rumahmu menuju gang-gang dan bunga-bunga yang menjenguk keluar dari pagarnya akan lambat laun layu, sebab memang hal seperti itu pedih benar. Tapi, bukankah kepedihan-kepedihan itu yang akan terus mengingatknmu padaku? Ingat,setiap kesenangan akan gampang usang, lapuk dimakan cuaca.

Tapi, seberapa hebat engkau berusaha menolakku? Bahkan ketika engkau terpaksa mengutip Einstein sewaktu terbit Seratus Pengarang Melawan Einstein? Jika aku benar-benar menginginkanmu, maka satu bunga saja cukup, tidak perlu seratus bunga. Terus kau ulang itu dalam pagar besi yang tertutup rapat. Tapi, ini salah satu rahasia keinginan, aku masih ingin dan aku pasti melakukannya. Hingga memang benar-benar ada, suatu saat ketika engkau membangunkanku terus menerus dalam rindu yang tak terganti, bahkan dalam menatap wajah lelah ku seusai mencumbumu.

Seringkali terlupakan olehmu, pesanku itu, jauh hari sebelum ada surat-surat, bunga-bunga, sajak-sajak jauh hari sebelum aku membangun kota yang rindang di dirimu, jauh hari sebelum engkau melakukan kesalahan fatal dengan cara menutup-nutupi keinginanmu padaku, jauh hari sebelum aku berniat benar.

Menjadi permasalahanku dari hari ke hari, kemudian, untuk terus-menerus masuk ke kepalamu merayap gundahku secara jujur dan kemudian, menekan tombol-tombol yang ada di dalamnya. Isi kepalamu adalah benda antik yang tidak terlalu rumit. Lebih menyerupai keramik-keramik dari pada sirkuit-sirkuit, tetap harus ada kehati-hatian dalam langkah-langkah pendek yang bersih dari keserampangan. Tapi, tetap saja harus ada gempa-gempa yang ditanam disana yang kelak akan menjadi bom waktu yang menghancurkan rayap rayap keseharian mu yang bahkan mulai membuat jalur-jalur ekonomi di dalam kepalamu.

Aku adalah mahluk melata yang mempunyai 273 tingkat bahaya dan masing-masing tingkat bahaya memiliki 137 anak bahaya. Cukup membahayanakmu dalam usia duapuluh tiga tahun perjalanan mengingat benda-benda. Tingkat anak bahaya yang paling rendah resikonya terwakili oleh sebuah bus di sebuah negara dunia ketiga. Tak perlu banyak alasan dan aturan, Seperti halnya takdir benda cair, ia meluncur sekaligus membuat hukum-hukumnya sendiri menjadi nyata.

Dan, aku melukismu seperti itu. Sebuah deras hujan diatas bukit yang rawan gempa dan renta tanah longsor.

Begitu aku mendapatimu, maka aku harus mematok angka tertentu, semacam tatapan kosmologimu untuk mengimbangi gravitasiku. Ah, tapi bagaimana aku harus menjelaskan kepadamu sehingga engkau yakin benar bahwa engkau dan aku adalah suatu ketidakteraturan? Apakah aku harus mengingatkanmu tentang Hukum Kedua Termodinamika? Digabung atau sendiri dan tertutup, maka ketidakteraturan hanya akan terus bertambah?Ah, tapi anggap saja serupa igauan dalam demam tinggi, tak ada yang perlu diyakini benar.

Bagaimana engkau bisa memagari keinginan-keinginanku jika itu berupa ketidakteraturan? Atau engkau akan mendapati hal yang sama antarwaktumu, sebuah kecemasan yang tidak lagi anggun. Engkau tidak pernah bisa mencuri poin apapun dalam pertandingan ini, kekalahanmu telak dan sudah teramalkan. Angka-angka menjauhimu secara sungguh-sungguh.

Mengertilah. Meninggalkan diriku adalah upaya tak ramah untuk mencoba memahami dirimu sendiri. Dan, tetap saja kau akan menemui diriku dalam malu-malumu.

Engkau perempuan ke tigapuluh tujuh ku dan yang membedakan mu adalah masih ada keinginan-keinginan yang merah segar, sekalipun sudah lama aku mempercayai peti mati kosong bagi namamu. Menguburkannya dalam gundukan tanah yang juga merah dengan sangat sederhana. Hanya ada batu mungil sebesar dan serasa delapan empedu.

Memang ada gelap sebuah pertemuan, juga kemunafikan dan sulur-sulur hitam basah bergerak lembut, selalu saja entah kenapa.

Ah, masih saja tetap mengental, dirimu dalam balutan piyama putih berenda kepala panda. Tidak ada yang lebih penting dari aktivitas harimu melebihi saat-saat menjelang tidur, Saat-saat televisi harus dikurangi volumenya dan memintaku menggaruk lembut punggungmu.

Bagaimana aku harus melepaskanmu? Diluar tak ada salak anjing, tak ada tangis bayi, tak ada yang menakutkan.

Jujur, keinginan-keinginanku sekerabat dengan pertemuan dua raja cobra. tak pernah menggunakan bisa yang paling mematikan untuk membuat yang satu pergi meninggalkan yang lain. Tapi kepergian adalah keharusan, mungkin boleh ditunda tetapi tidak boleh tidak harus dilakukan. sebagai mana kesedihan yang lain, itu hanya membutuhkan sedikit waktu untuk menjadi kebiasaan.

Dan bukankah engkau sudah cukup mengenalku? sampai pada kesimpulan bahwa aku adalah manusia yang tidak cukup tahu apa-apa yang aku butuhkan, dan jika bermain catur hanya selalu memburu dua kuda lawan, dan kemenangan-kemenangan selalu berawal dari sana.

Seperti udara, aku senan tiasa meloncat ringan bergerak cepat dalam cemas. Ada keleluasaan aneh dalam hidup ini. Setiap sedih dan cemas seakan bersekutu dengan lompatan ringan itu. Ya, pada detik-detik terakhir, dan selalu saja, entah mengapa. Dan, kau kecup kening serta punggung kanan ku, selalu dan selalu mengingatkan, aku adalah manusia yang dirahmati menit-menit terakhir, sebab hidup ini kubayar mahal dengan melewatinya bersama kecemasan dan kesedihan. Lalu aku memang berhak mendapatkan, rahmat menit-menit terakhir. Aku tersenyum dan lalu kupastikan lagi pada wajahmu, sesekali aku mulai menyadari, dirimu dalam waktu-waktu tertentu juga seperti udara yang meloncat.

Lalu kau semakin mengenaliku seperti engkau mengenali warna-warna gincu. Kebersamaan kita selama ini telah menggenangi ingatan ingatanku tentangmu, sedang aku tak mau bersedih untuk yang satu ini. Hidup ini sebesar layar TV. Jika kita membukanya, lelahku, lelahmu, tak cukup untuk mengarunginya, tak butuh satu tarikan napas, untuk selesai, untuk sudah.

Aku risau tidak tahu banyak hal, tapi aku tahu, aku akan tetap risau jika tahu banyak hal. Sebab ada yang tetap rumit dalam momen-momen yang singkat, seperti benda-benda hamil yang mengulang evolusinya. Aih, hidup ini!

Aku membutuhkan mu dalam hidup selebar pintu,dalam sepanjang lelah maupun sependek tarikan napas. Sebelum semua itu usang, sebelum aku enggan benar, maka aku akan tetap memastikan kepadamu, bukan saja tentang hidup yang serupa apa pun tapi juga tentang rahasia keinginan, lalu akan kau terima surat-surat, bingkisan-bingkisan,desas-desus, itu semua paket pasar malamku untuk mu, sekali lagi, sebab memang ada keinginan itu.

Terkadang bahkan aku menginginkan untuk tetap menjaga senda-gurau dalam sedikit perilaku primitif tanpa bahasa dan benda-benda moderen. Meninggalkan sejenak dunia kekinian hingga aku bisa menemukan bahasa tersendiri dan menjejerkan benda-benda yang kita butuhkan sekaligus cara bagaimana kita memberinya nama. Menentukan sendiri perahu yang akan membawa kita pergi sekaligus yang menyelamatkan kita, menemukan dan menyinggahi pulau-pulau yang kita inginkan. Ah, aku sungguh ingin melihat rona wajahmu ketika berhasil akan kubuatkan api untuk mengusir dingin dan memanggang makanan, dan perapian itu semakin meredup ketika mulai kau sentuh tubuhku dan membasuhnya dengan pasir. Malam seperti itu ditutup dengan mendekap erat tubuhmu, dan perapian tinggal bara saja.

Mungkin setelah membaca ini semua, engkau juga ingin mengunjungi masa-masa lampau, sebelum ada kera, sebelum ada manusia.

Ya, aku juga memendam hasrat menemukan rasa geli pada tubuhmu sebelum orang-orang mengajariku, sebelum aku tahu, ada rasa geli pada bagian-bagian tertentu di tubuhku.

Aku teringat ada enam jam pertemuan kita sehari-hari. Ada dua kali waktu makan, satu kali waktu mandi--dulu, ada tiga kali waktu beribadah, tapi tidak setelah empat bulan kebersamaan. Tepat sekali jika kita mengakhiri kebersamaan dalam kurun waktu satu tahun, jika tidak, panas tubuh dan berahi tak akan sanggup menghalau belatung-belatung ditempat tidur dan ular-ular yang muncul dari kotak televisi. Waktu sudah sedemikian membusuk dan kita harus bercerai. Ingat, kesetiaan adalah barang rapuh yang hendak menipu gerak waktu. Sudah cukup tanak kita, untuk bercerai, saling memandang dari kejauhan, bersekutu dengan benda-benda dan peristiwa-peristiwa lain. Datang dan pergi, singgah dan berlalu, sesukaku, sesukamu, sebab sebentar lagi akan ditemukan obat pengusir mati, tapi tidak untuk obat pengusir bosan.

Kisah-kisah telah tanggal bahkan saat-saat kita berkisah akan ditanggalkan, suatu saat. Dunia bangun dari kisah-kisah riang, dunia terjaga dari kisah-kisah murung.

Sekarang tidak harus bangun siang lagi, tidak harus sulit tidur malam, tidak harus merasa sendiri dan kesepian. Sekarang, sekaligus juga masih boleh bangun siang,masih boleh sulit tidur malam, masih boleh sepi dan menyendiri. Masih boleh menginginkanmu sebab obat lupa sudah lama ditemukan, dan kita boleh meminumnya, boleh tidak.

Sungguh pernah kualami kemarin, dalam rentan waktu yang tidak begitu lama, engkau lebih indah dari koran pagi. Dalam suam-suam kuku ingatanku padamu, engkau juga masih menggetarkanku. Mungkin engkau telah membangun peradaban aneh di diriku. Serasa menelan bulatan-bulatan pertempuran di sebuah teluk yang di perebutkan lima kekuatan. Bulatan-bulatan selesai kutelan, tapi tidak dengan pertempuran-pertempuran, masih berlangsung, masih berkecamuk.

sesekali aku menempuh lagi ingatanku padamu dengan cara-cara lama, mendengarkan lagu-lagu patah rasa dalam isapan tanggung benda yang mengerami nikotin, seperti ingatan itu, yang kemungkinan besar benda-benda itu akan membunuhku. Aku tahu, akan tetap saja melakukan . Sejenis ketolanan? Mungkin. Tapi, dibunuh atau tidak, sudah bukan hal yang menarik dibicarakan dalam hidup ini. Juga kemarin. Lampu kamar menyala malas, seperti salah satu hal penting jika engkau bertanya padaku dulu, jauh-jauh hari ketika aku berangkat dan kau selipkan kartu ATM-mu. Untuk apa aku bersusah payah? Dan, jawabanku cukup membingungkanmu. Ya, sebab aku sedang bermimpi tentang sebuah masa dimana kemalasan menjadi hak setiap manusia. Aku harus mulai mengerjakanya saat ini juga, menunda kemalasan. Alangkah indahnya bermalas-malasan bersama orang diseluruh penjuru dunia. Bergulingan di tempat tidur atau dipantai berpasir putih. Bayangkan jika semua orang melakukannya.

Hidup ini tak benar-benar menunda kekalahan.

Ada yang mungkin berubah, tapi setidaknya aku masih seorang pemimpi ulung. Aku ingin tinggal diatas biduk kecil dan hari-hariku adalah menelusuri sebuah sungai yang mengalir terus-menerus dan dengan seluruh keberuntungan dan inderaku yang terasah, kelak aku akan melewatinya. Ketika saat paling mendebar-debarkan tiba, aku cukup tahu, aku akan selamat dan kedai pinggiran pantai dengan udara dan hari yang cerah telah menantiku.

Hidup ini tak menuju ke arah kemenangan dan kemalangan

Kemalangan mu adalah ketika engkau merasa yakin bahwa aku akan merampas dan aku akan membawamu pergi dari ketentraman yang hina. Sejauh ini, engkau tetap seperti merasakan waktu yang sama dengan ketika engkau menunggu dering telepon dariku. Padahal, hidup memang tidak harus. Sampai kemudian engkau sadari yang mengirim dering malam ini adalah seseorang yang tak kau kenal dengan kesalahan menekan satu digit di angka paling belakang sebab hidup ini memang benar-benar....

Tapi, engkau adalah luka yang tak pernah kering itu. Bau busuknya menjalar menggenangi udara dan masuk ke tas-tas belanja. Aku masih mendekapnya dalam nyeri tak terhingga, memanggil nama tuan presiden dan membenamkannya pada nyeri lukaku. Ia mati, negara murung benar, rakyat tetap berjalan mungkin agak sedikit tergesa. Tak apa-apa. Biasa saja. Hanya luka itu, sedangkan kematian presiden mungkin akan ada sedikit upacara, selebihnya adalah acara liburan.

Mungkin benar aku adalah diri yang terpecah, berhambur, berserpih, dicincang oleh banyak ingatan oleh banyak peristiwa Sebagian kecilnya berlari-lari pada lorong-lorong sempit berbau busuk dan becek, sebagian kecil yang lain berenang dalam udara penuh racun, serpih lainnya tidak berdaya, bersandar, lelah, terengah-engah, mau mampus. Tapi, setiap orang membayar sendiri keintiman perjalanannya. Tidak boleh merasa sedih karena merasa menanggung segalanya sendirian, tapi boleh sedih untuk yang lain.

Dalam maluku yang masih sempat kusembunyikan bersama larutan hangat minuman, wajah sama merah, sikap diam, gerak tubuh yang agak kacau, engkau memang keajaiban bagiku. Segala kotak sundal kemunafikan telah menyembunyikan nyaris sempurna. Tapi, apakah memang ada hidup tanpa kemunafikan? Bahkan aku tidak percaya pada hidup yang lepas dari membesar-besarkan sesuatu,mengiris sesuatu, meringkas sesuatu, mendramatisir sesuatu, membual. Lalu memang begitulah kadang-kadang hidup ini, bersekutu dengan kemunafikan dan anggap saja itu biasa. Tak perlu menambah kemunafikan lebih rumit lagi dengan mempertanyakan mengapa harus munafik. Selesai bukan?

Biarkanlah aku mengenangmu dalam kebisuan yang agak angkuh, Berlagak tidak memandang dan mencarimu di sebuah pertunjukan teater, sebab aku yakin, engkau juga telah membekap kemanjaanmu untuk tidak mencariku. Pastilah dalam ruang remang itu, kau picingkan mata agak sipitmu itu untuk menemukan sosokku, seseorang yang pernah--dan pasti masih--mengunci erat kotak-kotak di otakmu agar tidak diisi oleh berita-berita murah dan mahal, kabar-kabar yang jelas dan tak jelas, teori-teori yang rumit dan sederhana, harga-harga, rekening-rekening, bekas-bekas rindu, bekas-bekas rangsangan, orang-orang lain, tubuh-tubuh lain.

Juga biarkan aku untuk tidak mengenalmu, sebab begitulah hal yang teringat jelas, kental, pekat, membutuhkan hal-hal yang sebaliknya. Untuk menambah derajat tertentunya atau sekedar seperti menata ruang-ruang di rumah. Ada barang-barang yang tertata karena kebutuhan, ada pula yang karena kebiasaan. ada pula yang murni sebagai pajangan, Begitulah jika aku tidak mengenalmu, bisa jadi secara serius itu adalah jalan untuk mendepakmu dari ingatan-ingatan yang seringkali ku anggap tolol. Tapi, bisa jadi itu justru akan semakin mengukuhkanmu setelah bertarung melawan benda-benda lain, atau bisa jadi, segalanya akan merawat dan membuatmu semakin jadi pesolek di ingatanku. Apa pun itu, akulah yang paling tahu dan masih saja agak malu untuk berterus terang.

Masih juga engkau merundungku dengan sedikit kata yang harus kuurai. Boleh juga pendapat yang mengatakan semakin segala sesuatu terurai, semakin ia kurang wajah, kurang rasa. Tapi, Bagaimana jika aku sengaja membesar-besarkannya, bukan saja sebagai alasan pada banyak pihak, bahwa kamu cukup berharga, tetapi juga karena tidak terampilnya aku untuk menjelaskan. Seperti desahan, seperti tarikan napas, seperti deheman, seperti banyak aktivitas yang menunjukkan keinginan untuk jeda, kebutuhan untuk mempersiapkan, tuntutan untuk bisa menata dengan lebih baik. Bisa jadi, ingat, sekali lagi bisa jadi, aku memperalat ingatan sekaligus keinginanku padamu untuk membuatku menemukan rasa-rasa lain, membuatku merasa lebih dari sekedar tumbuh, atau untuk melatih daya ingat dalam otakku.

Aku memang sulit untuk tidak berpihak, sebab itu berarti di luar konflik sesungguhnya. Aku suka perang yang ku lakukan sendiri, tak mencoba merecoki banyak pihak, lalu ini juga sedikit pengetahuan, engkau tidak harus selalu mendekam dan berdiam lama dalam diriku. Ada kalanya kukeluarkan untuk menjadi mitra tandingku, menjajal ketajaman tulang kaki pada dirimu. Percayalah, jika terluka, aku akan dengan khusuk akan tetap merawatmu, menyembuhkanmu, memberimu banyak lagi pengetahuan untuk sedikit lebih mengerti bagaimana cara bertanding dengan diriku. Permasalahannya adalah jika aku yang kalah--dan ini sering pula terjadi--maka salah satu jalan dari banyak jalan yang lebih rumit, ingatlah aku, dan jadikan itu sebagai sebuah kepastian, bahkan kebutuhanmu. Tanpa itu, aku hanya terus meyakinkan diriku untuk tidak mengapa mengalahkanmu terus, dan merawatmu, dan menyembuhkanmu.

Aku mungkin tahu tentang sedikit rumus turunan dalam rumus baku huidup ini. Bahwa ada hidup-hidup yang lain dari hidup besar ini, bahwa ada mati-mati yang lain dalam mati sungguh hidup ini, bahwa ada kamu-kamu lain dalam kamu yang sungguh di keinginanku ini, Tapi, itu akan semakin banyak membutuhkan banyak kotak dalam otakmu dan didalam kotak itu membutuhkan banyak laci, sehingga aku tahu, tak seharusnya aku perkenalkan ini kepadamu, sebab engkau lebih tertarik untuk mendengar getar suaraku daripada itu semua. Seperti halnya yang dulu, dekapanku yang erat dan hangat lebih akan bisa membuatku bergelora, bukan?

Tanyamu sejenak jadi jeda pada cerita ini, ya, mengapa tak ada yang seakan begitu serius dan pasti dalam hidup dan kata-kataku, maka itu akan jadi ladang suburmu untuk meninggalkanku, sekalipun aku yakin, engkau tidak ingin benar, sesungguhnya engkau cukup enggan.

Atau jika otak ini adalah papan tulis, ada banyak tersedia penghapus dengan bentuk nya yang unik tetapi kita kekurangan kapur tulis. Lalu ada darah, ada getah, dan banyaknya penghapus jadi masalah baru, tak bisa, tak kuasa menghapusnya, juga ingus dan liur kita sendiri. Minta ampun pilihannya, bukan?

Ada banyak teori, alasan dan teknik untuk menjawab dari sedikit pertanyaan, ah itu bukan karena banyak perbedaan dan banyak sisi, itu karena memang hanya ada sangat jarang pertanyaan. Jawaban-jawaban akan lebih gampang usang dari pertanyaan-pertanyaan. Lalu apakah dunia ini didandani oleh pertanyaan-pertanyaan atau jawaban-jawaban? Dan, bagaimana jika tidak boleh kau jawab dengan keduanya. Sebab kali ini aku sedang ingin berpihak pada pertanyaan-pertanyaan dan bukan jawaban-jawaban dan bukan keduanya. Sebab pada kali ini aku berniat melatari alasan-alasanku atas keinginan-keinginanku kepadamu dengan berpihak pada pertanyaan-pertanyaan.Aku mau merayakan dan membuat rumit keinginan-keinginanku padamu supaya takterkesan alamiah dan sederhana. Supaya aku lebih bisa menyembunyikan diri dari ketidak mampuanku menghadapi perasaan-perasaan itu. Biar saja.

Maka, lihatlah, kata-kataku, kalimat-kalimatku, jenis-jenisnya, cara menyajikan dan menyusunnya, adalah sebuah strategi untuk menghindari kepastian yang agak terkutuk itu.

Adakah hal-hal jinak yang dapat kau tangkap disana? Semoga tidak. Ada ketakutan yang sedikit menggarit, sebab pada tingkat kerumitan tertentu, kau akan menggelak, bergedik, menggeleng enggan, tak mengerti. Tapi, jika ada kepastian yang rumit engkau paham dengan sangat. Dan, aku agak takut, lalu jawab sajalah agar aku punya kuasa untuk menentukan hal-hal yang kuinginkan tertata di sana. maka, jawablah dengan kejujuran yang seperti dulu, apakah engkau merasa aku masih menyimpan sejenis cinta kepadamu? Paling tidak engkau sendiri membutuhkan itu, agar ada penyikapan, sebab jika ya jawabannya, aku mohon anggap ini sebuah surat cinta. Jika tidak, anggap sebagai mantra pengganti doamu yang itu-itu juga.

Jika aku tidak punya apa-apa, aku tidak ingin punya janji. jika aku punya apa-apa, aku tidak ingin punya janji.
Ada banyak risau yang bisa kita bagi. Yang pertama adalah kerisauan yang berupa enggan, bayangkan tentang wajah yang lelah yang urung menyeberangi jalan, sebab jalan sepi, sebab jalan tak menyebar sesak dan teriak, ruang dan umpatan. Urung pula menyeberangi jalan, sebab badan ini belum penuh daki. Ada banyak risau yang karena begitu lama tak bisa dikenali lagi. Engkau akan dengan mudah bisa mendapatinya pada kancing-kancing bajumu dan tahi lalat di punggung serta dadamu. Perlu sedikit waktu untuk memeriksanya, lalu engkau bakal yakin benar tentang risau itu membalurku. Tapi, diam-diam saja, risau yang sudah bergelayut dan bersemayam pada tubuh adalah risau yang tak lagi ganas.

Bergeraklah sedikit lebih cepat, gantikan sejenak gerakku yang mulai melambat. Di sela-sela setiap kemauan ada yang harus diselesaikan dengan gangguan, kadangkala gangguan ditengah jalan tak kurang menariknya dari tujuan awal. Boleh bertujuan, tapi pasti boleh berubah haluan. Boleh berkeyakinan, tapi masih boleh merubah haluan. Setiap perjalanan tidak harus terasa menyenangkan, setiap perjalanan tidak harus berupa petualangan, Sehingga kita tidak harus berupa petualangan. Sehingga kita tidak perlu bersikap menjadi petualang tangguh, beriman kuat, menjadi pahlawan. sebab diri ini dicincang banyak hal, maka pasti boleh menjadi plin-plan.

Bahkan tidak ada istilah tanggung-tanggung dan tidak ada separuh jalan. Segalanya bisa urung, dan jejak-jejak bisa dihapus dikembalikan seperti semula, sebelum keberangkatan.

Atau jika tetap bersikukuh, anggap saja perjalanan sebagai proses melarung benda-benda yang tidak kau inginkan. Jika engkau buruh, tak perlu bersetia pada barang wasiat majikan, jika kau warga sebuah negara tak perlu terpenjara pada aturan mainnya. Jika dirimu adalah kepingan tak jelas, mengapa ada yang sanggup mewakilimu?

Jangan pernah mempercayakan hidupmu pada apapun, bahkan pada waktu.

Pada dirimu yang berupa serpihan itu, ada bagian-bagian yang suatu saat memang harus lintang pukang. Ada serpih-serpih yang berhamburan tak terlacak. Ada hal-ha yang tak terkendali, tersesat, tak mau berkumpul lagi. Ada kepingan yang mati sendiri.

Aku rindu saat-saat berbagi sial dengan mu. Saat-saat dimana engkau harus menanggung akibat dari perbuatan-perbuatan yang kulakukan.. Aku rindu untuk membuang dan melempar salah padamu, bahkan ketika engkau masih silap pada acara infotainment dan lupa ada pada jam-jam tertentu, sesuatu mengingatkan untuk menyucikan diri dan berkreativitas serius penuh penghayatan. Aku rindu saat melempar sial, dan aku cukup paham mangapa orang bisa bersembahyang.

Engkau memang pernah sebeku ladang pada senja hari, dan pernah seriang tempat pelelangn ikan. aku suka saat-saat pergantian cuaca, dan saat saat engkau mengganti raut wajahmu dari riang menjadi beku, dari beku menjadi riang. Ah... betapa cepat pelelangan jadi ladang, juga sebaliknya.

Bolehkah malam ini aku bermalam pada tubuhmu?

Tapi, selalu saja hadir saat-saat paling kubenci saat engkau entah dimana, saat engkau tak dapat kutemui pada setiap gerakan yang mampu kulakukan pada wajahku, saat kamu tidak disisku. Tidak ada lagi sebuah wajah yang ranum ketika terjaga dari renggutan mimpi. Tidak ada lagi sepasang kaki rampingmu yang mencari persembunyian pada sepasang kakiku, sebuah pertanda pada bagian tertentu di tubuh kita ada upaya untuk saling menjaga dan melengkapi.

Di luar, orang-orang masih mendengungkan kisah-kisah cinta yang tak pernah padam, kisah-kisah penuh kasih dengan halaman luas yang penuh tanam bunga, mari bernyanyi mendendangkan lagu-lagu cinta. Aku disini memulai lagi untuk mendengar irama pelan yang muncul dalam tenang lelapmu. Lelap yang pernah kujaga dengan setia. Sebuah proses tentram yang kemudian harus kucoba akhiri dengan pengkhianatan.

Cinta tak selamanya buta, mungkin, tapi tak selamanya tak padam, mungkin.

Aku tidak ingin mengumbar bualan, mengumbar cerita tentang cinta yang dahsyat. Ada cinta orang-orang dan benda-benda biasa, dan aku ingin mencermatinya, mempelajarinya dalam tingkat kenaifan manusia mencerap bentuk-bentuk benda. Bahwa kerapuhan tidak bisa sekedar mempercayainya atau mendengarnya, sesekali kita sentuh dan kita jatuhkan. pecah! Sebuah kehilangan, mungkin. Tapi, kepastian yang kuat selalu bertumpu pada bukti-bukti yang mengalir terus. Setiap iman sering salah langkah, mencoba memulai dari percaya demi percaya, bukan dari bukti demi bukti. Dan, biarkanlah kemudian aku tidak mempercayai ini semua, sesuatu yang banyak didengungkan orang, aku tidak pernah memergokinya. Cinta melenggang dan berkibar karena bualan demi bualan.

Seperti kata, seperti benda, ada kepentingan yang terhunus di belakang sana. Suatu saat, aku akan datang untuk memaksamu membuat pengakuan, bahwa apa-apa yang kita jalani selama ini adalah upaya untuk terus-menerus mengikuti tradisi sesuatu, agar supaya dunia berjalan dengan rumus keselamatannya. Enkau mungkin membawa kepentingan menjaga dunia dalam rumusan cinta tertentu, aku, sungguh tidak. Tak ada kepentingan di sana. Hal-ihwal cinta, hal-ihwal keajaibannya.

Telah banyak ku habiskan waktuku untuk hidup dalam pikiran yang kejam. Besar dan kokoh dari kebohongan-kebohongan yang disusun oleh masyarakat dan sejarah. Aku mengunyahnya saban waktu dengan serius, mengikuti alur pikiran yang tak berfaedah. Membuatku besar kepala dengan ilmu-ilmu gaib sama besar kepalanya dan tidak berartinya orang-orang yang menguasai perdagangan.

Bayangkanlah tentang cinta di sebuah sudut lengan dalam lalulintas uang dan modal. Keduanya ingin melacurkan diri, yang satu mengajak mengunjungi dunia-dunia sunyi dan musim semi, yang satu lagi mengajak masuk ke warna-warna tajam, musik-musik menggentak, jalan-jalan raya yang macet.

Seperti cinta tak ada enaknya, bingar uang dan modal begitu menjijikkan. Jika aku ingin bersunyi aku tidak akan menanggapi benda-benda di sekelilingku dan jika aku ingin hingar-bingar aku ingin akrab dengan benda-benda di sekelilingku.

Tapi, kamu tetap merajam otakku, ada apakah?

Ada pula suata ketika aku merasai luka itu seperti terkunci pada udara pekat. Setiap kali aku menghirupnya ada rasa basah yang membawa gergaji di paru-paruku, Dan...aih, tak perlu lagi mendramatisir hidup ini!Seperti halnya ada satu luka saja, seperti tidak pernah terluka saja!

O, ya, aku pastikan sekarang, ini sebuah surat cinta. Jangan pernah membalasnya, sebab aku tahu benar engkau begitu mencintaiku, dan jangan pernah mau menikahiku, catat itu!

Hujan Yang Sebentar

AKU masih berbicara tentang ingatan, juga hujan yang hanya sebentar dan kenapa ia kekal dalam ingatan. Aku rasa karena ada keping peristiwa yang menyertainya, yang mungkin layak tercatat dalam ingatan. Atau mungkin sebaliknya, hujanlah yang menyertai peristiwa. Mungkin semua berjalan seperti catatan orang akan sejarah. Tidak semua peristiwa tercatat dalam lembarannya. Ada sesuatu yang tidak sekadar peristiwa di dalam sejarah, juga dalam hal ingatan. Tidak semua gugur daun, nyanyian, matahari yang tenggelam, khotbah, desir angin, percakapan. Dan ini tentang hujan yang sebentar, yang kekal dalam ingatan.

Senja dan hujan yang sebentar. Seperti percakapan-percakapan yang terusir, lalu mencari tempat berdiamnya sendiri, mungkin meratap diam-diam. Dan di pojok entah mana, aku dan kamu, dibuntal oleh hujan yang sebentar, di senja hari.

Setiap kali aku mengenangmu-yang diantar oleh hujan yang sebentar-rasa sedih pecah menjalarkan sunyi yang temaram. Dari kaca jendela kamar itu, kupandangi lama cuaca, dan percik air yang masuk lewat lubang ventilasi mengajak kita untuk menghambur dalam dingin hujan, membasuh sedih di luar sana. Setelah sebelumnya, himpitan beban seperti tak tertanggungkan, bahkan bila kita mau. Apalagi, jauh-jauh hari kamu sudah enggan, tak kuasa menanggungnya. Aku tahu, kamu ingin hidup yang tenteram saja.

Aku coba lagi untuk memastikan kepadamu, meyakinkan lebih tepatnya. Di luar sana, selain hujan dan waktu yang bergulung, kesedihan-kesedihan banyak menimpa manusia, juga yang berpasangan. Tak semua selamat, memang. Tapi beberapa, ya. Selamat. Setelah himpitan yang menyesakkan itu terlewatkan, bukankah napas menjadi begitu lega?

Tapi itu hanya cerita?

Tidak. Tetanggaku, sahabatku, beberapa mengalaminya. Lebih berpuing dari ini, lebih nyeri dari ini, aku kira.

Beberapa selamat?

Beberapa selamat. Tapi lebih banyak yang tidak. Karena itu bukan sesuatu yang gampang ditanggung dan dilewatkan begitu saja. Dan kita, aku pikir akan selamat.

Ah… …

Tengadahlah, Sayang… tatap aku baik-baik. Sudah tidak-kah?

Ia menggeleng pelan. Sebentar ditatapnya wajahku, mataku, seperti yang dulu-dulu. Dan ia menggeleng pelan. Ia sudah tidak mendapatkan apa-apa pada diriku, bahkan untuk sedikit kepastian. Semua selesai, semenjak gelengan itu.

LALU aku bertemu dengannya lagi, juga pada senja dan hujan yang sebentar. Di stasiun kereta api. Ia rindu. Sangat rindu. Aku tahu itu.

Kami minum kopi, sembari menunggu hujan reda. Ia masih seperti setahun yang lalu, hanya agak kurus. Senja ini tak ada kepastian, tapi aku yakin, ada yang sengaja dibuka oleh setiap pertemuan, walau aku tak yakin benar.

Aku kurus ya… ..

Aku mengangguk. Percakapan ini tidak sebagaimana lazimnya. Ia agak kikuk, dan aku ingin segera mengatakan-seperti yang dulu-dulu: aku mencintaimu. Tapi tidak mungkin, segalanya butuh perhitungan, juga untuk kata-kata yang harusnya kuucapkan dengan kejujuran.

Hujan reda. Kami berpisah. Benar, tidak ada kepastian. Tapi aku masih tetap percaya pada potensi pertemuan, dan aku percaya potensi dibalik pertemuan.
INI juga pada senja, dan rintik hujan. Kali kedua aku bertemu dengannya, di kotanya. Ia tidak secerah dulu, begitu sendu. Aku ingin merapatkan tubuhku padanya, dan berbisik: sesedih apakah kamu?

Tiba-tiba dua anak muncul dan berteriak girang menyerbumu. Lucu-lucu. Dan kamu berubah sekejap, tertawa girang dan menyambut mereka dengan pelukan hangat dan ciuman. Seorang laki-laki juga menghampirimu.

Aku panik. Tidak mungkin. Baru setahun yang lalu, bukan?! Tapi bisa jadi. Suamimu duda, misalnya…

Ini Dede dan Kahfi, keponakanku, dan ini kakakku…

Uhf……..

TAPI kepastian itu datang juga, akhirnya. Telah aku terima undangan pernikahan dengan namamu di sana, beberapa bulan yang lalu. Aku memandang ke jendela, senja, dan hujan. Pertemuan itu tidak membuka apa-apa, pertemuan itu telah menutup segalanya.

Dan sekarang, senja dibekap cuaca yang murung. Hujan akan segera turun. Bayanganmu lebih cepat datang dari hujan. Kamu di mana, dan seperti apa? Kamu tidak akan bahagia, sebagaimana aku juga tidak. Tapi aku tidak rela jika kamu sedih, sesedih aku. Aku mengambil kertas, dan mulai menulis. Ah, kebiasaan buruk. Selalu menulis puisi jika terlalu bersedih. Aku merobek kertas yang di atasnya, baru kutulis nama sayangku untukmu. Aku tidak mau menulis puisi lagi seperti tekadku dulu, begitu kamu akhiri dengan gelengan kepala: tak ada kepastian di mana-mana, bahkan di diriku.

Seseorang mengetuk pintu. Aku beranjak dengan malas.

Kamu!

Di luar, hujan mengguyur deras. Sangat deras.

Aku tidak begitu peduli waktu itu, tapi kuseduhkan secangkir teh, jenis minuman yang tidak seberapa kamu suka. Hujan dengan cepat reda. Begitu singkat, mungkin hanya untuk mengekalkan saat-saat pertemuan kita yang tak pernah bisa lepas dari hujan.

Di hadapanku kini, kamu, dalam tubuh yang agak basah, juga secangkir teh yang kuseduh untukmu. Mataku menatap perutmu. Belum ada tanda-tanda, mungkin karena baru beberapa bulan.

Kamu menunduk. Adakah yang sengaja kamu hindari selain tatap mata ini?

Kamu tahu, dari dulu, aku tak kuasa menatap matamu.

Tapi kamu tahu, aku selalu ingin kamu menatap mataku, sebab itu syarat utama dua orang hendak saling bersitatap, bukan? Dan aku menginginkan saat-saat kita beradu pandang. Sebelum banyak bicara, sebelum banyak dusta.

Bisa minta tolong……

Aku mengangguk.

Jangan tanya tentang pernikahanku.

Tidak. Sebab jawabanmu tak akan menyelamatkan apa pun. Apa pun.

Kamu menangis sesunggukan. Ah, air mata itu. Pernah kau kuyupi aku dengan air matamu. Juga luka dan getir itu.

Aku sedang ada urusan di sini, dan ingin juga bertemu. Kangen.

Kamu menyeka hidung dengan tisu. Mengingatkan dulu, tentang pertanyaan-pertanyaanku padamu. Mengapa jika kamu menangis, yang selalu kamu seka hidungmu, sepertinya bukan matamu yang menangis tapi hidungmu? Dan juga mengapa setiap kali kita makan, kedua tanganmu pasti kotor, sedangkan kamu selalu memakai sendok dan garpu. Makan yang begitu tertib, tidak sepertiku.

Dari jendela, sepintas kulihat. Senja mulai mengetuk malam, lampu-lampu mulai menyala.

Kamu mengedarkan pandangan, menatap buku-buku, pigura-pigura, almari pakaian, televisi yang mati, dan berhenti pada komputerku yang screen saver-nya masih tertulis namamu. Kamu bergetar, dan lagilagi sesunggukan menangis.

Harusnya aku mendekatimu, dan memelukmu. Seperti dulu-dulu. Tapi kali ini tidak, bahkan aku membatin: dihajar kenangan, ya?

Aku mengalaminya, sampai sekarang. Babak-belur dihajar kenangan dan tercabik-cabik. Terutama jika senja lewat disertai dengan hujan. Apalagi hujan yang sebentar, seperti sekarang ini.

Kamu masih belum banyak berubah dalam menata ruangan.

Aduh, kamu mulai basa-basi. Aku bangkit, hendak membuat kopi. Tapi kamu juga bangkit, menghampiriku, mengambil gelas yang kusentuh. Aku kembali ke tempatku semula, menunggumu menyeduhkan kopiku.

Kamu duduk lagi. Mengambil kertas dan menulis. Aku hanya memandangmu. Memandang caramu menulis, sebab itu salah satu yang kusuka darimu. Cara menulis yang tenang dan sepertinya sangat tidak peduli. Kamu sodorkan kertas itu. Kubaca.

Aku tidak bisa melupakan saat terakhir kamu memintaku untuk mau menerimamu. Sangat indah. Tak pernah aku bisa mendapatkan lagi saat indah itu. Bahkan kamu pun tidak bisa mengulangnya, atau karena tidak mau? Sebab kamu tahu, itu adalah saat terindah yang akan menghuni ingatanku.

Aku sedih. Dan mungkin menangis.

Kamu masih gampang terharu, ya… …

Kamu tersenyum. Sialan. Aku tidak jadi menangis.

Aku harus pergi, ada janji makan malam.

Aku mengangguk. Tak menahanmu. Kuantar kamu sampai taksimu meninggalkanku. Kututup pintu, minum kopi hasil seduhanmu. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang hilang dari ruanganku. Bukan, bukan kamu. Sebab kalau kamu, sudah terasa hilang sejak lama. Sebuah potret! Sialan! Potret dan pigura kecilnya, hasil hadiah dari seorang kawan yang mengambil gambarku ketika sedang mendayung perahu. Lalu aku ingat, kamu tak pernah bisa mendapatkan potretku, dan pernah bersumpah akan mencurinya. Tapi apa yang akan kamu curi? Aku tak pernah punya potret diriku sendiri. Ini kisah cinta apa-apaan? Kisah cinta yang mulai kurang ajar. Tapi aku mencintaimu, sungguh.

Malam ini aku menghabiskan diri dengan beberapa film, dan kamu sesekali main di sana, di dalamnya. Selebihnya, film itu bermain sendiri dan aku juga bermain sendiri, bersamamu dalam bayanganku. Pagi ini aku tidur, tak lelap. Lalu kudengar ketukan pintu lagi.

Aku bangkit dengan badan sakit-sakit dan mata yang panas. Pintu terbuka, kamu sudah berdiri dengan senyum tanpa dosa.

Aku masuk, ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Balik-balik, sudah sebuah pesta kecil terhidang di meja.

Aku bawakan makanan kesukaanmu. Kamu belum makan, kan?

Aku menggeleng. Kuambil nasi dan makan. Kamu juga, lalu kulihat kedua tanganmu yang pasti kotor jika makan. Membuatku tertawa sendiri.

Kenapa?

Aku menggeleng.

Kenapaaaa…

Aduh, mampus. Nada suara tinggi yang merajuk itu. Lalu kutunjuk kepingan VCD: teringat film lucu.

Kamu bangkit, menuju komputer. Aku hendak menahanmu. Tapi urung. Musik mengalun. Lagu-lagu sedih. Brengsek. Kamu duduk lagi, masih dengan dua tangan yang pasti kotor jika makan. Masih meneruskan makanmu yang menyita waktu. Aku menjilati sisa makanan di jariku. Menatapmu. Aku tahu, kamu tahu kalau aku menatapmu. Dan seperti tidak peduli, padahal sangat peduli, aku yakin.

Sore nanti, aku balik. Mau nggak, mengantarku ke bandara?

Aku diam tak menjawab. Harusnya kamu tahu jawabanku: aku malas mengantar siapa pun bepergian. Perpisahan itu tidak enak. Menjelang kepergian adalah saat-saat sedih, dan aku tak mau melewatkan yang seperti itu.

Kamu bisa menangkap jawabku lewat diamku.

Lalu perpisahan ini berlangsung dalam diam juga. Seperti kemarin, aku hanya mengantarmu sampai taksi meninggalkanku seorang diri.

Pintu kututup pelan. Pasti ada yang hilang lagi. Apa ya? Belum sempat kucari-cari, telepon berdering. Kuangkat. Di seberang, istriku, mengingatkan bahwa besok anak tunggal kami ulang tahun, tepat yang kelima.



Phutut EA

Lelaki Pencatat Gerimis

Kau mungkin akan terkejut setelah kuceritakan siapakah sosok yang tengah memunggungi kita sekarang. Dia duduk tepat di hadapan kita. Sebuah jalan besar membuat jarak tersendiri antara dia dan kita. Lelaki itu terlihat asyik dengan dunianya. Dia tidak peduli terhadap sekelilingnya.

Bangku yang didudukinya seperti menjadi bagian yang tak terpisahkan dari riwayat keberadaannya. Tentu kau lihat juga, tak seorang pun di taman itu yang mau duduk di sampingnya. Bangku panjang yang terbuat dari besi itu semakin mengukuhkan eksistensinya sebagai makhluk nyata yang tak benar-benar ada.

Andai kau duduk di kursi ini setiap senja, kau tentu akan tahu, bahwa kehadirannya di taman seberang jalan itu adalah pertanda semata. Sebuah pertanda yang tak disadari siapa pun, termasuk aku pada awalnya. Tapi aku tahu sekarang. Aku mulai bisa membaca pertanda itu tepat kecer melihat sebuah kursi kosong di sudut cafe ini. Aku sebetulnya tak terbiasa duduk di sudut. Tempat yang tak pernah terlewati banyak pengunjung ini. Tapi hari itu, aku memutuskan duduk di sini. Di kursi ini. Kupesan segelas Cappucino, dan saat itulah aku melihatnya.

Mulanya kulihat dia sebagai bagian dari taman itu. Kehadirannya adalah sesuatu yang tak berarti apapun. Tapi setelah setengah jam aku duduk, aku mulai tertarik dengannya. Dia adalah satu-satunya makhluk yang tak bergerak dari sekian makhluk yang ada di taman itu.

Saat itu juga aku berencana untuk menghampirinya. Tapi ketika aku berdiri, tiba-tiba kulihat langit mulai menangis. Gerimis turun perlahan. Aku tak jadi membayar minuman. Aku duduk kembali dengan menambah pesanan sebuah kopi pahit.

Aku pikir lelaki itu telah hilang dengan bergulirnya gerimis dari langit. Tapi sosok itu masih bertahan hingga kulihat gerimis semakin kerap. Dia tak menunjukan tanda-tanda akan pergi. Rambut gondrong yang semula berkibar-kibar diterpa angin senja itu kulihat menjadi lengket dan basah. Jaket hijau tuanya menjadi bersemu abu-abu. Dia tidak merubah posisi duduknya. Saat itulah, wajahnya menjadi sesuatu yang sangat penting bagiku melebihi apapun di atas dunia ini.

Gerimis menjelma hujan. Air yang jatuh tak lagi berirama lembut, tapi bertalu-talu. Suaranya mampu memacu detak jantungku semakin cepat. Aku segera menyambar switer yang kusandarkan di kursi, membayar minum, lantas menerjang hujan, menembus basah, menuju taman. Aku ingin melihat wajah lelaki itu. Wajah yang mampu menantang gemuruh badai dengan diam. Sampai di taman, aku tak menemukan siapa pun. Aku sendirian di tengah-tengah taman, di antara hujan dan kilat yang menyambar-nyambara.

Kau pikir dia hantu? Yang hadir seperti fenomena-fenomena gaib yang sering ditayangkan di televise-televisi itu? Tidak. Bukan. Kau harus mendengar ceritaku sampai selesai, agar kau tahu apa yang terjadi setelah hari itu. Benar katamu. Setelah hari itu, aku seringkali dating ke tempat ini. Memilih duduk di kursi ini. Memandang ke seberang jalan. Mengamati dengan penuh semua yang terjadi di taman itu. Hari pertama setelah kejadian itu, aku tak bertemu dengannya. Begitu pun hari kedua. Tapi hari ketiga aku kembali melihatnya. Dia duduk di bangku panjang yang terbuat dari besi itu dengan posisi membelakangi tempat kita duduk sekarang, persis seperti tiga hari yang lalu, saat aku pertama kali melihatnya.

Aku memang bertekad menghampirinya langsung. Setelah kulihat dia benar-benar duduk di bangku panjang itu. Aku pun beranjak dari kursi. Hari itu pun senja. Tapi langit tak seindah yang selalu digambarkan Seno . Sampai di depan pintu café aku tak segera menyeberang jalan. Seorang rekan lamaku baru saja turun dari mobilnya, dia menyapaku lebih dulu.

Dengan berat hati aku kembali duduk di kursi semula. Rekanku itu rupanya memang hendak masuk ke tempat ini. Kami bertukar kabar setelah bertahun-tahun tak bertemu. Aku sesekali mencuri pandang ke taman, lelaki itu masih terpaku di sana. Hingga akhirnya kusadari, gerimis turun terburu-buru. Lantas secepat hitungan stopwatch, gerimis menjelma hujan lebat. Kami keluar setelah hujan reda, dan aku tak menemukan lelaki itu. Kupikir lelaki itu memang pergi saat gerimis mulai turun. Hari itu pun selesailah penantianku. Besoknya aku datang lagi. Aku menemukan dia kembali duduk di sana. Tapi aku tak segera beranjak dari tempat ini. Keinginanku telah berubah. Aku telah memutuskan untuk menikmatinya sebagai sebuah objek. Dan kubiarkan dia hidup dalam anganku. Dengan segala keasingannya. Dengan ribuan pertanyaan yang berkecamuk dalam kepalaku.

Barulah setelah kulihat dia kesembilan kalinya, aku mampu menyimpulkan sesuatu tentangnya. Kau mungkin takkan percaya jika kuceritakan semuanya. Tapi bukankah saat ini kita akan membuktikannya?

Lelaki itu selalu menandai sebuah gerimis. Gerimis akan turun jika lelaki itu duduk di sana. Tapi gerimis tak akan pernah datang sampai kapan pun jika lelaki itu tak hadir di sana. Lelaki itulah pertanda gerimis. Dia akan tetap duduk di sana sampai gerimis menjelma hujan badai. Setelah hujan, lelaki itu akan menghilang di antara riuh suara angin dan dedaunan yang meliuk-liuk karena terpaan badai. Tapi jika gerimis berlangsung berjam-jam, lelaki itu akan tetap di sana. Menunggu gerimis usai. Untuk itu pula, kunamai dia Lelaki Penghitung Gerimis.

Betulkan? Coba lihat ke luar sana, gerimis mulai turun. Ayo kita ke sana. Bukankah kita ingin melihat sosoknya dari depan? Sekaranglah saat yang tepat. Ayo!

"Jika benar kau mencintaiku, aku ingin dibuatkan hujan. Ya, hanya hujan." Perempuan bermata bening itu telah membuatnya mengiyakan apa yang sebetulnya tak pernah terlintas dalam benaknya, bahwa dia bisa melakukan semua itu.

"Akan aku buatkan kau hujan yang indah, tunggulah sampai aku kembali," ucap lelaki itu sambil berlari meninggalkan kekasihnya.

Lelaki itu lantas mengembara. Dia pergi dari satu desa ke desa lain. Dari satu kota ke kota lain. Dari satu pawang hujan ke pawang hujan yang lain. Dari ilmu tradisional memanggil hujan sampai teknik modern dia pelajari. Tapi tak pernah satu pun cara berhasil ia lakukan. Jangankan hujan, gerimis pun tak pernah berhasil ia panggil.

Lelaki itu putus asa dan hampir menyerah. Sampai satu kesempatan datang. Bertemulah dia dengan seorang perempuan di sebuah pegunungan. Pertemuan itulah yang mampu membuatnya mewujudkan mimpi. Perempuan tua dengan wajah tirus itu mengajarinya memahami bahasa langit dan isyarat awan. "Semua yang ada di langit dan bumi ini adalah pertanda yang harus kau baca. Jika kau menginginkan alam tunduk kepadamu, pahamilah isyarat dan gerak di sekelilingmu, dari sana kau akan mengetahui apa yang tak bisa dipahami orang-orang." Begitulah ucapan perempuan itu untuk yang terakhir kalinya. Sebelum lelaki itu kembali menemui kekasihnya.

Lelaki itu telah sampai ke asal kotanya. Tapi ia tak langsung menemui kekasihnya. Lelaki itu ingin memberikan hadiah istimewa untuk perempuan bermata bening, kekasihnya. Dia tahu, hujan akan turun dua hari lagi. Dan lelaki itu akan pergi ke rumah kekasihnya tepat saat gerimis akan jatuh pelan, mencium tanah dengan kerinduan yang sangat. Seperti rindunya yang bertumpuk-tumpuk untuk perempuan bermata bening itu.

Hari itu pun segera tiba. Lelaki itu telah siap dengan rindu yang khusus dikemasnya untuk sang kekasih. Lelaki itu sampai di depan pintu rumah kekasihnya. Gerimis mulai jatuh perlahan. Tapi yang dilihat oleh lelaki itu bukanlah senyum indah milik perempuan bermata bening, kekasihnya. Melainkan sebuah upacara. Sebuah ritual pengikatan dua anak manusia. Perempuan itu dilihatnya menikah dengan lelaki lain. Bukan dia.

Lelaki itu menjerit, meraung, berteriak. Hujan semakin deras membasahi bumi. Kilat dan guntur saling berkejaran. Mereka seakan-akan mengerti tentang apa yang tengah terjadi dalam diri lelaki itu. Dalam diri lelaki itu telah hadir benih kesedihan, menumbuhkan luka yang terus memanjang dalam sejarah hidupnya.

Kita menggigil di taman ini. Kita telah masuk dalam wilayah sejarah seorang anak adam. Di matanya kulihat akar-akar luka yang menghunjam sampai ke jantung. Tatapannya ibarat sulur-sulur yang hidup beratus-ratus tahun. Menjerat leher kita dalam satu hentakan. Wajah kakunya berbicara lebih banyak lagi tentang rasa sakit dan perasaan dikhianati. Gemerutuk giginya mengisyaratkan kita pada amarah yang tak pernah ia tuntaskan. Dendam yang tak terselesaikan.

Kita makin menggigil. Entah karena hujan yang mengirim dingin atau karena pemahaman baru tentang seorang lelaki. Lelaki Penghitung Gerimis. Bangku panjang taman ini telah membuat kita membeku. Kaki kita tak juga beranjak. Semua yang kita lihat membuat kita enggan kemana pun. Kita pun membatu di bangku panjang ini. Membiarkan lelaki itu pergi dengan wajah yang tak pernah bisa kita lupakan.

"Kamu lihat dua orang yang duduk di bangku panjang yang terbuat dari besi di taman seberang jalan itu?" kata seorang perempuan kepada kekasihnya. Mereka duduk di kursi, pada sudut sebuah cafe.

"Kamu mungkin akan terkejut setelah kuceritakan siapakah mereka yang tengah duduk memunggungi kita sekarang ini." Perempuan itu berbicara lirih, seakan-akan takut didengar orang. Tangannya erat menggenggam tangan kekasihnya