Minggu, 27 April 2008

Hujan Yang Sebentar

AKU masih berbicara tentang ingatan, juga hujan yang hanya sebentar dan kenapa ia kekal dalam ingatan. Aku rasa karena ada keping peristiwa yang menyertainya, yang mungkin layak tercatat dalam ingatan. Atau mungkin sebaliknya, hujanlah yang menyertai peristiwa. Mungkin semua berjalan seperti catatan orang akan sejarah. Tidak semua peristiwa tercatat dalam lembarannya. Ada sesuatu yang tidak sekadar peristiwa di dalam sejarah, juga dalam hal ingatan. Tidak semua gugur daun, nyanyian, matahari yang tenggelam, khotbah, desir angin, percakapan. Dan ini tentang hujan yang sebentar, yang kekal dalam ingatan.

Senja dan hujan yang sebentar. Seperti percakapan-percakapan yang terusir, lalu mencari tempat berdiamnya sendiri, mungkin meratap diam-diam. Dan di pojok entah mana, aku dan kamu, dibuntal oleh hujan yang sebentar, di senja hari.

Setiap kali aku mengenangmu-yang diantar oleh hujan yang sebentar-rasa sedih pecah menjalarkan sunyi yang temaram. Dari kaca jendela kamar itu, kupandangi lama cuaca, dan percik air yang masuk lewat lubang ventilasi mengajak kita untuk menghambur dalam dingin hujan, membasuh sedih di luar sana. Setelah sebelumnya, himpitan beban seperti tak tertanggungkan, bahkan bila kita mau. Apalagi, jauh-jauh hari kamu sudah enggan, tak kuasa menanggungnya. Aku tahu, kamu ingin hidup yang tenteram saja.

Aku coba lagi untuk memastikan kepadamu, meyakinkan lebih tepatnya. Di luar sana, selain hujan dan waktu yang bergulung, kesedihan-kesedihan banyak menimpa manusia, juga yang berpasangan. Tak semua selamat, memang. Tapi beberapa, ya. Selamat. Setelah himpitan yang menyesakkan itu terlewatkan, bukankah napas menjadi begitu lega?

Tapi itu hanya cerita?

Tidak. Tetanggaku, sahabatku, beberapa mengalaminya. Lebih berpuing dari ini, lebih nyeri dari ini, aku kira.

Beberapa selamat?

Beberapa selamat. Tapi lebih banyak yang tidak. Karena itu bukan sesuatu yang gampang ditanggung dan dilewatkan begitu saja. Dan kita, aku pikir akan selamat.

Ah… …

Tengadahlah, Sayang… tatap aku baik-baik. Sudah tidak-kah?

Ia menggeleng pelan. Sebentar ditatapnya wajahku, mataku, seperti yang dulu-dulu. Dan ia menggeleng pelan. Ia sudah tidak mendapatkan apa-apa pada diriku, bahkan untuk sedikit kepastian. Semua selesai, semenjak gelengan itu.

LALU aku bertemu dengannya lagi, juga pada senja dan hujan yang sebentar. Di stasiun kereta api. Ia rindu. Sangat rindu. Aku tahu itu.

Kami minum kopi, sembari menunggu hujan reda. Ia masih seperti setahun yang lalu, hanya agak kurus. Senja ini tak ada kepastian, tapi aku yakin, ada yang sengaja dibuka oleh setiap pertemuan, walau aku tak yakin benar.

Aku kurus ya… ..

Aku mengangguk. Percakapan ini tidak sebagaimana lazimnya. Ia agak kikuk, dan aku ingin segera mengatakan-seperti yang dulu-dulu: aku mencintaimu. Tapi tidak mungkin, segalanya butuh perhitungan, juga untuk kata-kata yang harusnya kuucapkan dengan kejujuran.

Hujan reda. Kami berpisah. Benar, tidak ada kepastian. Tapi aku masih tetap percaya pada potensi pertemuan, dan aku percaya potensi dibalik pertemuan.
INI juga pada senja, dan rintik hujan. Kali kedua aku bertemu dengannya, di kotanya. Ia tidak secerah dulu, begitu sendu. Aku ingin merapatkan tubuhku padanya, dan berbisik: sesedih apakah kamu?

Tiba-tiba dua anak muncul dan berteriak girang menyerbumu. Lucu-lucu. Dan kamu berubah sekejap, tertawa girang dan menyambut mereka dengan pelukan hangat dan ciuman. Seorang laki-laki juga menghampirimu.

Aku panik. Tidak mungkin. Baru setahun yang lalu, bukan?! Tapi bisa jadi. Suamimu duda, misalnya…

Ini Dede dan Kahfi, keponakanku, dan ini kakakku…

Uhf……..

TAPI kepastian itu datang juga, akhirnya. Telah aku terima undangan pernikahan dengan namamu di sana, beberapa bulan yang lalu. Aku memandang ke jendela, senja, dan hujan. Pertemuan itu tidak membuka apa-apa, pertemuan itu telah menutup segalanya.

Dan sekarang, senja dibekap cuaca yang murung. Hujan akan segera turun. Bayanganmu lebih cepat datang dari hujan. Kamu di mana, dan seperti apa? Kamu tidak akan bahagia, sebagaimana aku juga tidak. Tapi aku tidak rela jika kamu sedih, sesedih aku. Aku mengambil kertas, dan mulai menulis. Ah, kebiasaan buruk. Selalu menulis puisi jika terlalu bersedih. Aku merobek kertas yang di atasnya, baru kutulis nama sayangku untukmu. Aku tidak mau menulis puisi lagi seperti tekadku dulu, begitu kamu akhiri dengan gelengan kepala: tak ada kepastian di mana-mana, bahkan di diriku.

Seseorang mengetuk pintu. Aku beranjak dengan malas.

Kamu!

Di luar, hujan mengguyur deras. Sangat deras.

Aku tidak begitu peduli waktu itu, tapi kuseduhkan secangkir teh, jenis minuman yang tidak seberapa kamu suka. Hujan dengan cepat reda. Begitu singkat, mungkin hanya untuk mengekalkan saat-saat pertemuan kita yang tak pernah bisa lepas dari hujan.

Di hadapanku kini, kamu, dalam tubuh yang agak basah, juga secangkir teh yang kuseduh untukmu. Mataku menatap perutmu. Belum ada tanda-tanda, mungkin karena baru beberapa bulan.

Kamu menunduk. Adakah yang sengaja kamu hindari selain tatap mata ini?

Kamu tahu, dari dulu, aku tak kuasa menatap matamu.

Tapi kamu tahu, aku selalu ingin kamu menatap mataku, sebab itu syarat utama dua orang hendak saling bersitatap, bukan? Dan aku menginginkan saat-saat kita beradu pandang. Sebelum banyak bicara, sebelum banyak dusta.

Bisa minta tolong……

Aku mengangguk.

Jangan tanya tentang pernikahanku.

Tidak. Sebab jawabanmu tak akan menyelamatkan apa pun. Apa pun.

Kamu menangis sesunggukan. Ah, air mata itu. Pernah kau kuyupi aku dengan air matamu. Juga luka dan getir itu.

Aku sedang ada urusan di sini, dan ingin juga bertemu. Kangen.

Kamu menyeka hidung dengan tisu. Mengingatkan dulu, tentang pertanyaan-pertanyaanku padamu. Mengapa jika kamu menangis, yang selalu kamu seka hidungmu, sepertinya bukan matamu yang menangis tapi hidungmu? Dan juga mengapa setiap kali kita makan, kedua tanganmu pasti kotor, sedangkan kamu selalu memakai sendok dan garpu. Makan yang begitu tertib, tidak sepertiku.

Dari jendela, sepintas kulihat. Senja mulai mengetuk malam, lampu-lampu mulai menyala.

Kamu mengedarkan pandangan, menatap buku-buku, pigura-pigura, almari pakaian, televisi yang mati, dan berhenti pada komputerku yang screen saver-nya masih tertulis namamu. Kamu bergetar, dan lagilagi sesunggukan menangis.

Harusnya aku mendekatimu, dan memelukmu. Seperti dulu-dulu. Tapi kali ini tidak, bahkan aku membatin: dihajar kenangan, ya?

Aku mengalaminya, sampai sekarang. Babak-belur dihajar kenangan dan tercabik-cabik. Terutama jika senja lewat disertai dengan hujan. Apalagi hujan yang sebentar, seperti sekarang ini.

Kamu masih belum banyak berubah dalam menata ruangan.

Aduh, kamu mulai basa-basi. Aku bangkit, hendak membuat kopi. Tapi kamu juga bangkit, menghampiriku, mengambil gelas yang kusentuh. Aku kembali ke tempatku semula, menunggumu menyeduhkan kopiku.

Kamu duduk lagi. Mengambil kertas dan menulis. Aku hanya memandangmu. Memandang caramu menulis, sebab itu salah satu yang kusuka darimu. Cara menulis yang tenang dan sepertinya sangat tidak peduli. Kamu sodorkan kertas itu. Kubaca.

Aku tidak bisa melupakan saat terakhir kamu memintaku untuk mau menerimamu. Sangat indah. Tak pernah aku bisa mendapatkan lagi saat indah itu. Bahkan kamu pun tidak bisa mengulangnya, atau karena tidak mau? Sebab kamu tahu, itu adalah saat terindah yang akan menghuni ingatanku.

Aku sedih. Dan mungkin menangis.

Kamu masih gampang terharu, ya… …

Kamu tersenyum. Sialan. Aku tidak jadi menangis.

Aku harus pergi, ada janji makan malam.

Aku mengangguk. Tak menahanmu. Kuantar kamu sampai taksimu meninggalkanku. Kututup pintu, minum kopi hasil seduhanmu. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang hilang dari ruanganku. Bukan, bukan kamu. Sebab kalau kamu, sudah terasa hilang sejak lama. Sebuah potret! Sialan! Potret dan pigura kecilnya, hasil hadiah dari seorang kawan yang mengambil gambarku ketika sedang mendayung perahu. Lalu aku ingat, kamu tak pernah bisa mendapatkan potretku, dan pernah bersumpah akan mencurinya. Tapi apa yang akan kamu curi? Aku tak pernah punya potret diriku sendiri. Ini kisah cinta apa-apaan? Kisah cinta yang mulai kurang ajar. Tapi aku mencintaimu, sungguh.

Malam ini aku menghabiskan diri dengan beberapa film, dan kamu sesekali main di sana, di dalamnya. Selebihnya, film itu bermain sendiri dan aku juga bermain sendiri, bersamamu dalam bayanganku. Pagi ini aku tidur, tak lelap. Lalu kudengar ketukan pintu lagi.

Aku bangkit dengan badan sakit-sakit dan mata yang panas. Pintu terbuka, kamu sudah berdiri dengan senyum tanpa dosa.

Aku masuk, ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Balik-balik, sudah sebuah pesta kecil terhidang di meja.

Aku bawakan makanan kesukaanmu. Kamu belum makan, kan?

Aku menggeleng. Kuambil nasi dan makan. Kamu juga, lalu kulihat kedua tanganmu yang pasti kotor jika makan. Membuatku tertawa sendiri.

Kenapa?

Aku menggeleng.

Kenapaaaa…

Aduh, mampus. Nada suara tinggi yang merajuk itu. Lalu kutunjuk kepingan VCD: teringat film lucu.

Kamu bangkit, menuju komputer. Aku hendak menahanmu. Tapi urung. Musik mengalun. Lagu-lagu sedih. Brengsek. Kamu duduk lagi, masih dengan dua tangan yang pasti kotor jika makan. Masih meneruskan makanmu yang menyita waktu. Aku menjilati sisa makanan di jariku. Menatapmu. Aku tahu, kamu tahu kalau aku menatapmu. Dan seperti tidak peduli, padahal sangat peduli, aku yakin.

Sore nanti, aku balik. Mau nggak, mengantarku ke bandara?

Aku diam tak menjawab. Harusnya kamu tahu jawabanku: aku malas mengantar siapa pun bepergian. Perpisahan itu tidak enak. Menjelang kepergian adalah saat-saat sedih, dan aku tak mau melewatkan yang seperti itu.

Kamu bisa menangkap jawabku lewat diamku.

Lalu perpisahan ini berlangsung dalam diam juga. Seperti kemarin, aku hanya mengantarmu sampai taksi meninggalkanku seorang diri.

Pintu kututup pelan. Pasti ada yang hilang lagi. Apa ya? Belum sempat kucari-cari, telepon berdering. Kuangkat. Di seberang, istriku, mengingatkan bahwa besok anak tunggal kami ulang tahun, tepat yang kelima.



Phutut EA

0 komentar: